Tangkuban Perahu (Lembang) Tempat Persinggahan Selanjutnya PIAUD ‘20”

Menjelang subuh, Rabu, 18 Januari 2023, rombongan PIAUD UIN Jambi angkatan 2020 tiba di areal Lembang (Jawa Barat) setelah melalui perjalanan malam dari kota Yogyakarta. Memasuki daerah lembang melalui jalur kabupaten Subang. Perjalanan yang terasa sejuk dan dingin menyapa para rombongan dosen dan mahasiswa ini. Hamparan kebun teh tampak dengan dedaunannya yang segar. Melewati kawasan gunung tangkuban perahu rombongan sejenak beritirahat dan sarapan pagi di daerah Cikole.

Setelah mandi dan berdandan cantic, para mahasiswa sarapan berat berupa nasi (khas sunda) diiringi dengan musik yang juga bernuansa sunda. Setelah lahap memakan makanan yang telah disediakan, rombongan pun kembali ke arah gunung tangkuban perahu. Gunung Tangkuban Parahu adalah salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Parahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 °C pada malam hari. Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Ada legenda yang mengisahkan tentang gunung tangkuban perahu (Legenda sangkuriang). Sangkuriang adalah legenda yang sangat populer dan berasal dari Jawa Barat. Legenda ini mengisahkan awal mula terciptanya Gunung Tangkuban Perahu, yang saat ini menjadi salah satu wisata populer di Bandung. Pada awalnya, Legenda Sangkuriang merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis cerita ini dapat ditemukan pada naskah Perjalanan Bujangga Manik, yang ditulis pada daun lontar di akhir abad ke-15.

Legenda Sangkuriang bermula dari khayangan, di mana diceritakan ada sepasang dewa dan dewi yang dihukum menjadi hewan dan menjalani masa hukumannya di bumi. Sang Dewa menjelma menjadi seekor anjing jantan bernama Si Tumang, sedangkan sang Dewi menjadi babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang. Suatu ketika, seorang raja bernama Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan, raja ingin buang air dan ditampungnya air kencingnya di batok kelapa.
Setelah itu, datang Celeng Wayung Hyang yang kehausan dan meminumnya. Seketika, babi hutan betina itu hamil dan melahirkan seorang putri cantik. Raja Sungging Perbangkara yang menemukan bayi itu lantas membawanya pulang ke keraton. Putri itu kemudian diberi nama Dayang Sumbi atau Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, sehingga banyak raja yang menginginkan untuk menjadi suaminya. Namun, semua lamaran ditolak Dayang Sumbi, hingga membuat para raja berperang karenanya.

Dayang Sumbi kemudian memilih untuk mengasingkan diri dan hidup di hutan dengan ditemani anjing Si Tumang. Suatu hari, saat sedang asyik menenun, tempat kainnya jatuh dan ia malas untuk mengambilnya. Dayang Sumbi lalu berujar, siapapun yang mengambil tempat kainnya itu, jika laki-laki akan dijadikan suami dan jika perempuan akan dijadikan saudara. Ternyata, Si Tumang yang mengambilkan tempat kain itu. Dayang Sumbi pun memenuhi sumpahnya dan menjadikan anjing itu sebagai suaminya. Dari pernikahannya dengan Si Tumang, Dayang Sumbi melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang.

Seiring berjalannya waktu, Sangkuriang yang telah beranjak remaja mendapatkan tugas dari ibunya untuk berburu rusa. Sangkuriang pun pergi ke hutan ditemani Si Tumang. Setelah lama menunggu, ia melihat seekor babi hutan yang gemuk.

Sangkuriang segera menyuruh Si Tumang untuk mengejar babi hutan tersebut, yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena itu, Si Tumang enggan menjalankan perintah. Hal itu membuat Sangkuriang kesal dan mengancam dengan anak panahnya. Secara tidak sengaja, anak panah itu lepas dan membunuh Si Tumang. Karena bingung, Sangkuriang kemudian menyembelih peliharaannya untuk diambil hatinya. Setelah itu, Sangkuriang kembali pulang dan menyerahkan hati tersebut ke ibunya. Mengira bahwa yang diterimanya adalah hati rusa, Dayang Sumbi pun memasak dan memakannya. Namun, setelah mengetahui yang ia makan adalah hati Si Tumang, Dayang Sumbi pun marah besar kepada Sangkuriang.

Dayang Sumbi kemudian memukul kepala putranya itu dengan centong atau sendok nasi yang terbuat dari kayu hingga kepala Sangkuriang terluka. Karena takut, Sangkuriang akhirnya meninggalkan rumah dan mengembara meninggalkan Dayang Sumbi.

Setelah sekian lama pergi dari rumah, Sangkuriang tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang kuat dan sakti. Suatu ketika, ia mengembara hingga tidak menyadari berjalan sampai ke tempat Dayang Sumbi berada. Sangkuriang pun jatuh hati terhadap kecantikan Dayang Sumbi dan tidak mengetahui bahwa wanita yang dicintainya itu adalah ibunya sendiri. Saat Sangkuriang berniat menikahinya, Dayang Sumbi menolak karena telah mengetahui bahwa pria yang hendak meminangnya itu adalah putranya. Dayang Sumbi lantas memberikan syarat yang mustahil dilakukan kepada Sangkuriang apabila ingin menjadi suaminya

Dayang Sumbi meminta dibuatkan perahu dan telaga yang harus jadi dalam semalam dengan membendung aliran Sungai Citarum. Syarat itu ternyata disanggupi oleh Sangkuriang. Mengetahui hal itu, Dayang Sumbi takut dan memohon kepada Sang Hayang Tunggal agar mengagalkan usaha Sangkuriang. Ia juga memukulkan alu ke lesung, seolah-olah sedang menumbuk padi dan menjadi pertanda bahwa fajar telah tiba. Alhasil, makhluk halus anak buah Sangkuriang pun ketakutan dan pergi sebelum menyelesaikan tugasnya karena mengira pagi segera tiba. Karena gagal memenuhi persyaratan Dayang Sumbi, Sangkuriang pun mengamuk dan menendang perahu yang dibuatnya ke arah utara.

Dalam sekejap, perahu yang jatuh menelungkup itu berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Setelah itu, Sangkuriang masih mengejar Dayang Sumbi hingga ke Gunung Putri. Akan tetapi, Sang Hyang Tunggal segera mengubah Dayang Sumbi menjadi setangkai Bunga Jaksi agar lolos dari kejaran Sangkuriang. Sedangkan Sangkuriang yang tidak berhasil menemukan Dayang Sumbi akhirnya menghilang ke alam gaib.

Demikian sepenggal kisah gunung tangkuban perahu yang kalau dilihat dari kejauhan (kota Bandung) tampak seperti perahu yang terbalik. Namun ketika dilihat dari dekat tak tampak seperti yang dimaksud dan hanya berupa kawah gunung yang cukup luas.

Rombongan mahasiswa yang sampai di kaki gunung, kemudian dilanjutkan dengan mobil yang telah disediakan, sedangkan bus terparkir di kaki gunung dengan beberapa toko souvenir khas jawa barat. Setiba di lokasi gunung tangkuban perahu, kembali rombongan dijajakan dengan lalu lalang penjual oleh-oleh serta toko-toko yang berjajar rapi menawarkan beberapa kerajinan masyarakat lokal seperti rajutan tas dsb nya. Tukang poto keliling pun ambil bagian dalam menjajakan poto studionya berupa poto dengan latar belakang kawah gunung yang langsung jadi.

Tampak mahasiswa PIAUD UIN Jambi terpana dengan indahnya panorama yang disajikan di depan mata dengan hawa pegunungan yang sejuk. Setelah puas berpose, para mahasiswa berkesempatan berbelanja souvenir oleh-oleh bagi kerabat dengan harga tawar menawar. Umumnya mahasiswa membeli baju serta tas-tas rajutan berukuran kecil. Tak lupa ada beberapa mahasiswa mencoba strawberry yang telah dibeli sebelumnya dilokasi parkir bawah kaki gunung. Tampak raut wajah ceria dari para mahasiswa menikmati semua pemandangan alam yang tersaji. Disisi lain, ada juga beberapa dengan wajah murungnya karena tak mampu memuaskan selera untuk membeli beberapa oleh-oleh bagi kerabat karena kantong yang telah menipis dan pundi-pundi uang telah habis. Hanya mampu gigit jari, hal ini tak terlepas mahasiswa yang terlalu jor-joran berbelanja saat mereka berada di Yogyakarta sehingga mereka hanya mampu jadi penonton bagi teman-temannya yang berbelanja di areal gunung tangkuban perahu.

Torehan kata bermakna melukiskan keindahan ciptaan-Mu..sejuknya udara menghembus kedalam tulang merambah suasana pegunungan yang menghatarkan jiwa pasrah pada-Mu.

-Miftahul Jannah S-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *