Gangguan mental merupakan gangguan psikologis yang berdampak pada keseluruhan aktivitas individu termasuk aspek penyesuaian dirinya dengan lingkungan. Salah satu gangguan mental yang berat dikenal dengan istilah “Schizophrenia” yang berdasarkan data WHO terindikasi sebanyak 20 juta pengidap gangguan ini, sementara di Indonesia sendiri pengidap mencapai 450 ribu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) termasuk didalamnya adalah “Schizophrenia” dan gangguan ini bisa menyebabkan kematian 2-3 kali di usia muda. Dimasyarakat kita, penyebutan schizophrenia ini diindektikkan dengan gangguan “Gila”.
Dalam dialog mengenai Kesehatan mental yang diadakan oleh RRI Jambi, 24 Mei 2023. Ridwan Psikolog UIN Jambi mencoba menguraikan pemahaman tentang “Schizophrenia” yang dimaknai dengan Skizo” yang artinya retak atau pecah (spilt), dan “frenia” yang artinya jiwa. Artinya Schizoprenia adalah gangguan mental yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Penderita schizoprenia sering mengalami gejala seperti delusi, halusinasi, gangguan berpikir, dan kesulitan dalam membedakan kenyataan dengan khayalan yang biasanya terjadi diantara usia 15-25 tahun. Mereka terkadang tertawa-tawa sendiri atau berteriak-teriak tanpa ada stimulus yang menyertai. Dari beberapa kasus, mereka seolah mendengar bisikan ghaib, bahkan ada yang merasa bisa berbicara dengan makhluk ghaib dan Binatang serta ada yang memiliki waham kalau mereka adalah seorang nabi atau keyakinan lain yang itu tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Ridwan yang juga sebagai “agen of change” di kampusnya dan ketua PRODI PIAUD UIN Jambi menjelaskan pula penyebab Schizophrenia yang hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan gangguan ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:
Faktor Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan schizophrenia dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan ini, artinya perlu diwaspadai bila ada indikasi di keluarga yang mengalami, maka bisa diturunkan kepada anak maupun keluarga yang lain.
Faktor Ketidakseimbangan Kimia Otak: Ketidakseimbangan zat kimia neurotransmiter di otak, terutama dopamin, dapat berperan dalam terjadinya schizophrenia. Dopamin merupakan zat kimia yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang. Seperti yang sudah dipahami, di dalam otak terdapat banyak sel saraf yang saling berkomunikasi satu sama lain. Hormon dopamin ini adalah substansi yang digunakan antar sel saraf untuk mengirimkan sinyal yang dilepaskan antar sel saraf. Jika kadarnya menurun, dapat dipastikan bahwa saraf otak tidak mampu bekerja dengan efektif dalam mengirimkan sinyal. Alhasil, aktivitas otak terganggu dalam mengatur berbagai fungsi kognitif dan motorik tubuh. Beberapa hal bisa menyebabkan kondisi menurunnya dopamin, antara lain:
• Mengalami penyakit seperti depresi, skizofrenia, gangguan psikosis, dan penyakit Parkinson;
• Penyalahgunaan obat-obatan;
• Pola makan yang tidak sehat seperti tinggi gula dan lemak jenuh. Makanan tinggi lemak dan gula biasanya juga memiliki kadar nutrisi untuk menghasilkan hormon dopamin yang lebih sedikit seperti l-tirosin dan asam amino.
Faktor Perubahan Struktur Otak: Beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan struktur otak pada penderita schizoprenia.
Sedangkan Ciri-ciri Schizoprenia:
Delusi: Keyakinan yang salah dan tidak dapat dibantah meskipun ada bukti sebaliknya.
Halusinasi: Mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Gangguan Pikiran: Kesulitan dalam memikirkan atau menyusun gagasan secara logis.
Gangguan Berbicara: Pola bicara yang kacau dan sulit dipahami.
Gangguan Persepsi: Kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan.
Gangguan Emosi: Fluktuasi emosi yang tiba-tiba dan tidak wajar.
Gangguan Perilaku: Perilaku yang tidak biasa atau tidak sesuai dengan situasi.
Cara Mengatasi Schizoprenia:
Masing-masing gejala bisa berbeda antara pengidap yang satu dengan pengidap yang lainnya.
Sementara pada klasifikasinya, schizophrenia digolongkan dalam 3 klasifikasi, diantaranya :
Schizophrenia “Paranoid” yang paling banyak dijumpai diberbagai negara dengan gambaran klinis atau gangguan berupa waham-waham atau keyakinan yang keliru dengan halusinasi berupa pendengaran serta gangguan persepsi. Skizofrenia ini sejenis psikosis yang berarti pikiran kamu tidak sepakat dengan kenyataan yang ada.
Beberapa contoh pada gangguan ini berupa :
- waham : merasa dirinya hebat dan istimewa
- mendengar halusinasi berupa suara yang mengancam dirinya seolah teman-temannya akan menyakiti dirinya dan sebagainya
- halusinasi pembauan
Gejala yang dialami pada skizofrenia paranoid yaitu adanya keyakinan yang tetap tampak nyata bagi pengidapnya, bahkan ketika ada bukti kuat bahwa itu tidak nyata. Skizofrenia paranoid juga disebut sebagai delusi penganiayaan, mencerminkan ketakutan dan kecemasan yang mendalam bersama dengan hilangnya kemampuan untuk mengatakan apa yang nyata dan tidak nyata. Gangguan ini mungkin membuat kamu merasa seperti:
- Seorang rekan kerja berusaha menyakiti kamu.
- Pasangan kamu selingkuh.
- Ada yang memata-matai kamu.
- Orang-orang di lingkungan kamu berencana untuk berbuat jahat pada kamu.
Keyakinan ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan kamu. Selain itu, jika kamu berpikir bahwa orang asing akan menyakiti kamu, kamu mungkin merasa seperti sendirian.
Orang dengan skizofrenia biasanya tidak kejam. Namun, terkadang delusi paranoid dapat membuat mereka merasa terancam dan marah. Kamu juga bisa mengalami halusinasi dimana indra kamu tidak berfungsi dengan baik. Misalnya, kamu mungkin mendengar suara-suara yang mengolok-olok kamu atau menghina kamu. Mereka juga mungkin memberitahu kamu untuk melakukan hal-hal berbahaya. Atau mungkin kamu melihat hal-hal yang tidak benar-benar ada.
Schizophrenia “Hebefrenik” yang merupakan terjadinya perubahan afektif atau perasaan yang tampak jelas dan dijumpai dengan waham dan halusinasi.
Seseorang yang mengalami skizofrenia jenis ini menunjukkan gejala-gejala yang tidak teratur, yaitu:
- Bermasalah dengan tugas rutin seperti berpakaian, mandi, menyikat gigi.
- Menunjukkan emosi yang tidak sesuai dengan situasi.
- Efek tumpul atau datar.
- Gangguan kemampuan komunikasi, termasuk bicara.
- Bermasalah dengan penggunaan dan pemilihan kata-kata.
- Ketidakmampuan untuk berpikir jernih dan merespons dengan tepat.
- Penggunaan kata-kata yang tidak masuk akal/ mengarang kata-kata (neologisme).
- Menulis banyak tanpa makna.
- Lupa atau kehilangan barang.
- Berjalan mondar-mandir atau berjalan melingkar.
- Memiliki masalah dalam memahami hal-hal sehari-hari.
- Menanggapi pertanyaan dengan jawaban yang tidak berkaitan.
- Mengulangi hal yang sama berulang-ulang.
- Masalah dengan mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas.
- Kurangnya kontrol impuls
- Tidak mampu melakukan kontak mata.
- Berperilaku seperti anak kecil.
- Melakukan penarikan sosial.
Scizophrenia “Katatonik” adalah salah satu jenis skizofrenia dengan gejala utama yang khas, yaitu katatonia. Katatonia merupakan sekumpulan gejala berupa perilaku yang tidak normal, seperti seluruh tubuh menjadi kaku atau tubuh melakukan gerakan berulang.
Menurut penelitian, gejala katatonik terjadi pada 10–25% dari semua penderita skizofrenia. Umumnya, penderita skizofrenia katatonik dapat mengalami gangguan perilaku selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari jika tidak diatasi.
Berbeda dengan kejang, ketika terjadi gejala katatonia, penderita skizofrenia masih dalam keadaan sadar.
Penyebab Schizophrenia katatonik :
Penyebab skizophrenia katatonik belum diketahui secara pasti. Namun, terjadinya skizophrenia sering dikaitkan dengan beberapa faktor, yaitu genetik, ketidakseimbangan zat di dalam otak, serta lingkungan.
Sementara itu, terjadinya katatonia diduga terkait dengan kelainan pada sel-sel saraf di otak. Kelainan pada sel saraf ini mengakibatkan terjadinya aktivitas abnormal pada bagian otak yang mengatur gerak tubuh.
Meski penyebabnya belum diketahui, penderita skizophrenia lebih berisiko mengalami katatonia jika ia mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dan menyalahgunakan NAPZA. Hal ini karena alkohol dan NAPZA memberikan dampak negatif yang lebih parah pada keseimbangan zat-zat kimia di dalam otak penderita skizofrenia.
Gejala schizophrenia katatonik
Gejala skizophrenia katatonik biasanya berupa gejala skizophrenia yang disertai dengan katatonia. Ada lima gejala utama yang dapat dialami penderita skizofrenia, yaitu:
- Delusi
- Halusinasi
- Sulit berbicara dengan baik
- Perilaku tidak terkontrol
- Gejala negatif, seperti tidak bisa merasakan emosi, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, atau tidak ada ketertarikan pada suatu hal
Adapun 12 macam gejala katatonia yang utama adalah:
- Stupor, yaitu kondisi ketika seseorang tidak bisa merasakan rangsangan apa pun meski masih terbangun
- Kaku pada seluruh anggota tubuh (katalepsi)
- Mudah marah atau gelisah tanpa alasan yang jelas (agitasi)
- Latah
- Echopraxia, yaitu kondisi ketika seseorang mengulangi gerakan atau perilaku orang lain
- Tubuh meliuk dalam posisi yang tidak lazim
- Stereotypy, yaitu gerakan berulang tanpa tujuan tertentu, seperti menepuk tubuh atau menggoyangkan jari
- Tidak merespons instruksi atau rangsangan dari luar (negativisme)
- Posisi badan melawan gravitasi dalam waktu yang lama (posturing)
- Gerakan aneh dan berlebihan (mannerism)
- Diam atau tidak berbicara sama sekali (mutism)
- Ekspresi wajah yang tidak normal, seperti meringis atau menyeringai
Ridwan menambahkan, “Schizophrenia” adalah kondisi yang membutuhkan perawatan jangka panjang oleh tim medis yang terlatih. Beberapa cara mengatasi schizoprenia meliputi:
Terapi Obat: Penggunaan obat antipsikotik dapat membantu mengendalikan gejala schizoprenia. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter yang kompeten dalam pengobatan gangguan ini.
Terapi Psikososial: Terapi ini dapat membantu individu dengan schizophrenia belajar menghadapi stres, mengembangkan keterampilan sosial, meningkatkan kemampuan berpikir dan penyesuaian diri. Dukungan dari keluargapun sangat diperlukan agar pengidap memahami masalah yang dihadapi.
Schizophrenia sendiri sebenarnya sulit untuk dicegah dikarenakan faktor genetik dan ketidakseimbangan dalam otak. Namun, melalui assessment yang mendalam upaya yang dapat dilakukan dengan mendeteksi dan mengobatinya sejak dini sehingga perilaku buruk dan tingkat kekambuhan dapt dicegah.
Jadi, bila ditemukan adanya gejala schizophrenia seperti yang telah diketahui, maka segeralah hubungi psikolog maupun psikiater terdekat agar tidak terjadi perilaku yang berlarut karena pengidap bisa melakukan hal-hal yang menakutkan seperti “membunuh” orang lain karena mereka seolah-olah mendegar sesuatu bisikan yang meminta mereka lakukan hal tersebut diluar kontrol meski sebenarnya bisikan atau juga penglihatan mereka itu tidaklah benar atau tidak sesuai dengan kenyataannya, namun mereka sangat meyakini apa yang mereka dengar, lihat dan rasakan tutup Ridwan.


-Miftahul Jannah S-
Alhamdulillah