Ridwan Psikolog Menanggapi Maraknya Kasus Pedofilia

 

Akhir-akhir ini seringkali kita mendengar kasus pelecehan disertai kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak, baik itu dilakukan oleh orang yang tak dikenal atau bahkan oleh orang-orang terdekat di lingkungan anak itu sendiri.

Menurut Ridwan Psikolog, perilaku kekerasan dalam bentuk pelecehan seksual terhadap anak mengindikasikan adanya gangguan kejiwaan atau biasa disebut dalam istilahnya pedofilia.

Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani, paidophilia (παιδοφιλια)—pais (παις,”anak-anak”) dan philia (φιλια, cinta yang bersahabat atau persahabatan.

Istilah yang kemudian berkonotasi negatif karena berkembangnya perilaku menyukai anak dengan adanya intimidasi terhadap anak untuk melakukan tindakan seksual.

“Saat ini, Pedofilia di artikan tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak,” ujarnya.

Lebih lanjut Ridwan Mengatakan Pedofilia merupakan seseorang dengan orientasi seksual yang salah, yaitu membayangkan anak-anak sebagai objek seksualnya.

Mengapa anak-anak? Hal tersebut karena rasa takut yang berlebihan untuk dihakimi oleh orang dewasa, sehingga membuat pengidap tertarik pada anak-anak karena mereka merupakan makhluk yang masih polos dan mudah untuk dipengaruhi dengan bujuk rayu dari pelaku.

Menurut Ridwan ada beberapa ciri-ciri pedofilia, di antaranya :

  1. Bersifat Introvert

Salah satu hal yang perlu diwaspadai orangtua adalah, terkadang pelaku pedofilia berasal dari orang terdekat. Sekilas, pelaku tidak akan terlihat memiliki ketertarikan seksual terhadap anak-anak. Mereka cenderung menutup diri pada orang dewasa dan menghindari interaksi sosial. Namun, saat bermain atau ngobrol dengan anak-anak, pelaku memperlihatkan adanya antusiasme yang luar biasa pada anak-anak.

  1. Bersifat Obsesif

Ciri pedofilia selanjutnya adalah bersifat obsesif, yang ditunjukkan dengan ketertarikan terhadap satu anak yang sudah diincar. Jika begini, pelaku akan terus-menerus memberikan perhatian kepada korban, dengan memberikan makanan atau benda yang disukai, agar korban dapat terpancing. Jika cara yang halus tidak juga membuahkan hasil, mereka tidak segan untuk memakai cara yang kasar.

  1. Berkamuflase

Para pelaku pedofil pandai berkamuflase. Ini menjadi ciri pedofilia lainnya yang perlu kita waspadai. Pelaku akan menyamar menjadi sosok yang baik agar bisa disenangi anak-anak yang menjadi incarannya. Jadi, ibu perlu mewaspadai jika ada orang dewasa yang berlaku sangat baik hanya pada anak kita saja. Waspadai siapapun itu, meskipun orang terdekat.

  1. Bersifat Agresif

Saat sudah mendapatkan anak incarannya, pelaku cenderung berlaku agresif. Mereka cenderung memiliki kematangan emosi yang tidak baik, sehingga dapat berujung pada penyiksaan terhadap anak-anak. Oleh karena ketidakmatangan emosi yang dimiliki, mereka cenderung memiliki sikap yang berubah-ubah.

  1. Mengincar Siapapun

Jika tidak mendapatkan anak incarannya, pelaku akan mengincar siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan. Siapa pun yang ada di depan matanya. Jadi, usahakan untuk selalu berada dalam pengawasan saat mengajak anak main di luar rumah.

Untuk meminimalisir keadaan tersebut, Orang tua perlu melakukan langkah pencegahan dengan mengedukasi anak tentang pedofilia, dengan menggunakan kata yang mudah dimengerti. Artinya perlu dilakukan edukasi seksual sedini mungkin ke pada anak. Bimbing anak bagaimana harus bertindak jika ada seseorang yang mencurigakan, seperti berteriak minta tolong.

Semakin dini orang tua memberikan edukasi, maka rasa waspada pada anak anak terpupuk dan terhindar dari incaran.

Saat mengetahui atau mencurigai pelaku pedofilia, diharapkan untuk tenang dan memperhatikan apakah pelaku melakukan tindakan kriminal atau tidak.

Perlu diketahui bahwa pengidap pedofilia dengan ciri yang tidak parah dan tidak berbahaya masih dapat berbaur dengan masyarakat secara normal. Jadi, dibutuhkan kewaspadaan dan kehati-hatian bagi orang tua terutama pada orang yang tidak dikenal.

Ridwan juga menjelaskan, kalau perilaku pedofilia ini tidak hanya bersifat menyukai lawan jenis saja dalam hal ini pria dewasa menyukai anak-anak wanita, tetapi bisa juga pria dewasa yang menyukai anak laki-laki.

Sebaliknya pula pelaku pedofilia juga bisa berlaku bagi para wanita yang menyukai anak laki-laki meskipun kasus seperti ini jarang terjadi.

Anak-anak yang menjadi incaran berusia paling tidak pada masal baligh yakni usia 13 tahun ke bawah dengan upaya mengeksplorasi anak secara seksual hingga terjadinya perbuatan pencabulan terhadap anak.

Ridwan menambahkan, Pelaku adalah orang yang mengalami hambatan dalam menciptakan hubungan relasi dengan lawan jenis secara memadai atau juga mengalami penolakan yang berulang sehingga mereka melampiaskan kondisi ini kepada anak-anak sebagai korbannya.

Disamping itu, pelaku bisa juga diakibatkan adanya pengalaman masa lalu sebagai korban kekerasan seksual sehingga ketika tumbuh dewasa ia pun melakukan hal yang sama terhadap anak-anak.

Untuk itu para pelaku pedofilia ini perlu mendapat perawatan berupa terapi perilaku kognitif yang telah terbukti mengurangi residivisme pada orang yang memiliki hubungan dengan pelaku kejahatan seks.

Perawatan perilaku kognitif mempunyai sasaran, keyakinan, dan perilaku yang dipercaya untuk dapat mengurangi kemungkinan pelanggaran seksual berulang terhadap anak-anak, dan pencegahan untuk kambuh.

Pelaku juga perlu menyadari kalau fantasi atau keinginan untuk berhubungan secara seksual terhadap anak merupakan sesuatu yang tidak wajar sehingga dihimbau untuk dapat mendatangi ahli seperti Psikolog maupun Psikiater agar keinginan dan fantasi liarnya terhadap anak tidak berlanjut menjadi potensi perbuatan yang tidak semestinya.

Kemudian dilakukan tindakan konseling agar dapat memperbaiki komunikasi dan menciptakan hubungan yang wajar dengan lawan jenis seusianya.

“Tentu pendekatan agama menjadi sesuatu yang bisa dilakukan pada kecenderungan perilaku pedofilia ini,” tutup Ridwan.

Artikel ini telah tayang di TribunJambi.com dengan judul Marak Kasus Pedofilia.

 

-Miftahul Jannah S-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *