Bus diparkirkan terlebih dahulu di dekat Bank Indonesia Yogyakarta, tampak ramai dan berhimpitan bus-bus yang terparkir disana.

Rombongan pad akhirnya beranjak ke malioboro dengan jalan kaki dan tepat dipersimpangan lampu merah areal sisi kanan ke malioboro dan sisi kiri ke kraton Yogya, rombongan pun berfose tepat di depan monumen perjuangan serangan umum 1 maret 1949. Mungkin sebagian anak muda tidak mengenal apa artinya monumen bersejarah ini bahkan mungkin tidak peduli dengan monumen ini yang penuh dengan rasa kebangkitan para pejuang kita mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hal ini ditandai dengan para muda mudi cuek dengan lokasi monumen ini. Sepertinya perlu kiranya anak muda kembali belajar sejarah perjuangan rakyat Indonesia.
Terlepas dari itu semua, kembali ke kerombongan yang menyusuri jalan malioboro yang panjang dan padat oleh pengunjung. Mereka tak lupa menjajaki pusat perbelanjaan disepanjang perjalanan yang terkenal dengan batiknya ini.
Ada beberapa mahasiswa yang terus melajukan langkah kakinya dan melewati bring harjo menuju teras malioboro 2 yang jaraknya cukup jauh. Di teras malioboro mereka terus berbelanja dan tampak belum puas kemudian melanjutkan belanjanya di sepinggiran malioboro.
Tiba saatnya kembali ke hotel, salah satu mahasiswa yerpisah dari rombongan dan ketika dihubungi mahasiswa tersebut tampak menangis dan tidak mengetahui dimana lokasi bus berada. Dengan sabar akhirnya mahasiswa melalui via telepon dibimbing agar segera menuju bus yang mau tidak mau menunggu mahasiswa ini di pinggir jalan mendekati lampu merah dengan kondisi bus masih menyala. Maklum, sebenarnya bus tidak diperkenankan untuk berhenti di areal lampu merah. Begitulah, seketika kita nekat berpisah dari rombongan dan lupa dengan keadaan, maka kitapun akan kelabakan sendiri pada tempat dan situasi yang tidak kita pahami apalgi di negeri orang.
Catatan sekelumit deru langkah mengitari kota yang selalu menggeliat dimalam hari..malioboro, malam bagai siang.
-Miftahul Jannah S-