Anak merupakan titipan yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya dan mereka pulalah nantinya akan menjadi generasi penerus kita kelak.
Ridwan Psikolog dari PRODI PIAUD FTK mengatakan kalau anak itu merupakan investasi bagi kita menuju akhirat, kalau kita mendapat anak yang soleh maupun soleha, maka mudah-mudahan surga yang kita dapat tapi sebaliknya sebab do’a dari anak yang soleh lah yang mampu menghantarkan kita ke surga.
Ridwan juga menjelaskan makna dari Parenting sebagai sebuah pola pengasuhan dan merupakan singkatan teknik-teknik dasar pengasuhan anak bersifat holistik, sederhana, dan praktis untuk diaplikasikan.
Ada Beberapa aspek gaya perlakuan orang tua (parenting style) memberikan konstribusi terhadap kompentensi sosial, emosional, dan intelektual bagi anak, diantaranya.
- Authoritarian
Yang mana gaya pengasuhan orang tua berupa : Sikap “acceptance” rendah, namun kontrolnya tinggi ditandai dengan, Suka menghukum secara fisik.
Bersikap mengomando (mengharuskan/memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi) bersikap kaku (keras)
Cenderung emosional dan bersikap menolak.
Akibatnya anak akan menjadi mudah tersinggung, penakut, pemurung, tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai arah masa depan yang jelas dan tidak bersahabat.
- Permissive
Dimana sikap orang tua seperti, sikap “acceptancenya”nya tinggi, namun kontrolnya rendah, Memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau keinginannya.
Dengan gaya pengasuhan seperti ini, anak cenderung menjadi bersikap impulsive dan agresif, suka memberontak, Kurang merasa memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri, suka mendominasi, tidak jelas arah hidupnya dan Prestasinya rendah.
- Authoritative
Pola ini menunjukkan perilaku orang tua terhadap anak, seperti Sikap “acceptance” dan kontrolnya tinggi
Bersikap responsive terhadap kebutuhan anak.
Mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan. Memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan yang buruk.
Dengan perlakuan seperti ini, anak akan menjadi bersikap sahabat, memiliki rasa percaya diri, mampu mengendalikan diri (self control), bersikap sopan, mau bekerjasama, memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi, mempunyai tujuan atau arah hidup yang jelas dan berorientasi terhadap prestasi.
Jadi menurut Ridwan, kita perlu hati-hati dalam menerapkan perlakuan terhadap anak apalagi anak akan mudah pula meniru perilaku yang kita perlihatkan.
Sebagai orang tua dan guru bagi anak, kita perlu menerapkan sebuah aturan disiplin. Disiplin itu ketika anak bisa mengembangkan rasa tanggung jawab kepada dirinya serta membuat pilihan yang tepat.
Untuk dapat mencapai tahap disiplin, anak perlu memulai bersikap tanggung jawab mulai dari hal yang sederhana. Tanggung jawab berarti anak memiliki kewajiban terhadap seluruh aspek kehidupan yaitu terhadap bakat, potensi, perasaan, pemikiran, tindakan, dan kebebasannya.
Tanggung jawab ini bukan merupakan hasil dari kematangan, namun sesuatu yang anak pelajari.
Sedangkan untuk dapat mendisiplinkan anak ada beberapa syarat dengan mengkedepankan enam prinsip utama, yaitu :
- Setiap anak berbeda
Setiap orang memberikan respon yang berbeda terhadap disiplin yang orang tua coba terapkan.
- Harapan orang tua menentukan penampilan dari anak. Sesuatu yang selalu kita lihat adalah anak melakukan persis apa yang diharapkan, terlepas dari apakah hal tersebut diucapkan atau tidak.
- Contoh adalah guru yang terbaik. Menerapkan disiplin adalah contoh dari orang tuanya. Kita tidak dapat mengharapkan seorang anak akan memiliki kamar yang rapi jika ia melihat keadaan dapur rumahnya yang berantakan.
- Konsistensi merupakan hal yang penting. Hal yang paling sulit menerapkan disiplin adalah konsistensi.
Perlu melakukan secara berkesinambungan agar anak terlatih untuk melakukan hal yang kita inginkan.
- Anak belajar dari kejadian sebenarnya Penting meminta anak bertindak atas dasar kepentingan dan kesejahteraan anak, bukan karena kenyamanan atau perhatian kita akan penilaian orang lain.
- Harga diri adalah penguat yang tetap bagi sikap tanggung jawab kepada diri anak melakukan disiplin dengan baik, jika melihat munculnya kebanggan bila mampu melakukannya. Mulai membereskan dan menjaga mainannya, jika ia melihat adanya kebanggan dari memiliki mainan tersebut atau
ia merasa mainan tersebut adalah miliknya, tanggung jawabnya.
Ridwan juga berpesan agar mengajari anak disesuaikan dengan Zamananya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zaman kita sebagai mana sabda Rasulullah.
Di akhir materinya, Ridwan menguti pendapat Dorothy Law Nolte yang
menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya.
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki .
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri .
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
-Dewi Suta_