Sejak awal pada anak usia dini hendaknya sudah mulai di tanamkan rasa percaya diri, agar anak terlatih untuk terampil dan berani menyampaikan apa yang dirasakan dan yang akan disampaikan nya kepada khalayak dilingkungannya.
Pendidikan di era milenial ini, sudah meminimalisasikan terjadinya kekerasan dan perlakuan yang tidak baik kepada anak, bahkan orang tua hendaknya harus selalu mendukung apapun yang menjadi bakat dan minat anak, hal ini agar dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya, memupuk pertumbuhan dan perkembangannya, tentu saja mendidik, membimbing serta membina anak harus penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, itulah pendidikan era milenial untuk anak.
Bahkan Dalam kalimat parenting ala sayyidina ali bin abi thalib RA menyebutkan
“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Inilah tantangan para ayahanda dan ibunda serta guru PAUD dalam memutuskan mata rantai pendidikan yang kolonial di masa milenial.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, pada masa kini tantangan mendidik anak dengan kelembutan dan kasih sayang, tentu menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh anak, agar mereka memiliki kenangan indah dimasa kecilnya, yakni masa yang ada satu kali selama hidupnya.
Bak dalam tunjuk ajar pantun Tenas Effendy menyebutkan bahwa
“Durhaka Anak Karena Ibunya
Binasa Anak Karena Bapaknya
Celaka Anak Karena Kaumnya
Larat Anak Karena Sekampungnya
Kalau Anak Tidak Dipinak
Hutang Bertambah Marwah Tercampak
Kaum Binasa Bangsa Pun Rusak
Dunia Akhirat Beban Di Bawak”.
Menurut Indra Bangsawan salah seorang dosen muda PIAUD UIN Jambi sekaligus sebagai sekretaris PPG UIN Jambi menyatakan kita hendaknya terus belajar, orangtua adalah pengemudi arah dari lingkungan tempat hidup anak, sehingga perlu mendidik anak dengan era yang berbeda dengan ilmu pendidikan sama baiknya yakni mengenalkan hal-hal yang baik,melatih rasa percaya dirinya, menanamkan ilmu agama, dan pembiasaan berbudi pekerti yang baik pada anak sehingga dalam masa tumbuhnya anak dapat menjaga, menjunjung tinggi serta mampu melaksanakan ajaran yang baik pula di era milenial ini, akhirnya menjadi harapan terciptanya generasi bangsa yang baik dan berguna bagi Agama nusa bangsa serta negara.
Indra Bangsawan menambahkan pendidikan seperti taman ilmu di dalam dada, bisa dibawa kemanapun dan dimanapun, itulah salah satu berkahnya ilmu, kala dilaut menjadi kapal layar untukmu berlayar, saat diudara menjadi pesawat terbangmu, ketika di darat menjadi kendaraanmu bak lamborgini, pendidikan yang dirawat dengan rapi dan dipupuk dengan anggun hingga menuai panennya, kelak menikmati jugalah manisnya penantian menuai hasilnya dari benih-benih belajar, pendidikan dengan Ilmu yang baik semakin diberi semakin bertambah elok warna, rupa dan rasanya.
Tanyakanlah kepada orang-orang yang telah terdidik, bergelar nama, berpengetahuan lagi beradab akhlaknya, mereka semua melalui jenjang pendidikan yang dilewati dengan suka dan duka, pasang surut perjalanan, dari sebuah unutaian pepatah mengatakan bahwa dari batu yang sama bisa menjadi dua kemungkinan, kemungkinan pertama adalah batu tersebut menjadi menjadi sandungan terjatuh bila kita tidak kuat melompatnya, kemungkinan kedua dari batu yang sama bila sabar dalam melompatnya bisa menjadi tempat berpijak unutk melihat tingginya langit dan luasnya dunia. Sungguh mulialah jiwa muda yang berkeinginan untuk belajar guna mengkaji ilmu dan memperbaiki diri, serta mengapai masa depan yang lebih cerah.
Jangan lupa berdoa dan tetaplah berusaha, dimana ada kemauan disitu ada jalan, ini adalah kalimat pengaminan dari langkah, tekat, semangat dan determinasi untuk melanjutkan pendidikan sebagai penguat niat dan meninggikan harap, lihat contoh betapa orang sukses melalui jalan pendidikan, jadikan sukses mereka sebagai teladan, jadikan suka duka sebagai obat dari ketar ketirnya perjuangan, rasakanlah aromanya perjuangan, aroma khas, sebutlah aroma itu aroma perjuangan, maka akan kamu ingat betapa kuatnya dirimu, betapa romatisnya perjalanan mengayuh waktu, akhirnya dari perjuangan itu merupakan masa- masa indah untuk dikenang, harapan mulia lagi cita-cita besar dimasa depan.
-Dewi Suta-