Bromo Fenomena Mendunia Yang Dikunjungi PIAUD “22”

Usai sudah menyeberangi kapal laut dini hari hingga subuh dari pelabuhan bakauhuni menuju merak selama 2,5 jam, senin 11 desember 2023 tiba dan merapat di pulau jawa pulul 5.00 subuh. Rombongan PIAUD langsung melanjutkan ke Jakarta dan berhenti untuk membersihkan diri dan sarapan pagi, pukul 08.00 wib. Setelah mempersolek dan mempercantik diri dengan segala senjata rahasia yang dimiliki khas kaum hawa, tampak para mahasiswa anggun mempesona. Meski lelah, senyum sumringah tetap tampil dibibir tipis mereka mengingat tujuan berikutnya adalah gunung bromo, sebuah destinasi terbaik ke tiga di dunia.
Melewati beberapa kota besar, tampak mahasiswa mengabadikan poto ketika melintasi kota semarang disisi kiri kanan jalan tol.
Perjalanan terus berlanjut hingga malam diperhentian makan malam daerah bawen, jawa tengah. Dan ini untuk pertama kalinya para mahasiswa yang didampingi para dosen menikmati makanan khas jawa yang tersaji dengan menu beberapa rupa tepat pukul 19.00 wib.
Setelah diikat oleh waktu yang terus memanggil, rombonganpun segera bergegas menuju bromo. Melalui pintu tol probolinggo, mereka tiba ditempat rest area pukul 03.00 wib dan dilanjutkan pendakian melalui transportasi jeep yang disediakan oleh masyarakat setempat. Ada 5 buah jeep mengangkut 30 anggota yang masing-masing tiap jeep diisi oleh 6 orang.
Perjalanan yang penuh tantangan dengan ruas jalan yang menyempit dan berkelok membuat sebagian mahasiswa oleng ke kiri dan ke kanan layaknya saat mereka berada di kapal. Tantangan perjalanan yang diterima oleh para mahasiswa piaud “22” ini terbayar kontan ketika laju jeep mencapai puncak tertingginya dan kesempatan ini pula mereka manfaatkan kembali untuk berfose dibalik gunung bromo dan cahaya matahari yang beranjak tinggi.
Kemudian perjalanan yang mendaki dilanjutkan menurun menuju arah taman gunung bromo, tepat pukul 05.00 wib, selasa 12 desember 2023.

Cuaca diseputaran bromo tampak banyak kabut menyelimuti plus cuaca yang dingin menembus ke pori-pori dan tulang. Berbekal sebo, syal dan sarung tangan mereka mencoba menghalau dingin yang menghampiri dengan suhu 12 derajat celcius. Beberapa diantaranya tampak gemetar dengan cuaca dingin dan untungnya hati mereka tetap hangat tidak sedingin cuaca yang ada.


Mereka saling bercengkrama sambil menunggu sarapan yang telah disiapkan oleh masyarakat setempat dengan nasi jagung khasnya serta lauk pauk yang tersedia.
Usai menyantap hidangan, bertepatan pula dengan kabut yang perlahan mulai menghilang, rombongan melangkahkan kakinya ke kaki bukit bromo. Hamparan pasir yang luas disuguhkan pula gunung bromo yang berdiri kokoh menghipnotis mata mereka. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.
Ucapan syukur atas kesempatan yang mereka peroleh dalam perjalanan kali ini terungkap dari bibir tipis mereka. Masya Allah, pemandangan yang luar biasa, seru mereka sambil terus memutari kaki bukit gunung bromo dan pastinya mereka juga berpoto sambil mengeluarkan gaya bak model kondang papan atas. Bahkan bu dosen, Sapriya yang mendampingi mahasiswa juga tak kalah dengan gaya fantastisnya.

Diantara mereka juga ada yang mencoba menginjak bromo dan melintasi gunung tersebut. Hanya, terbatas waktu, mereka yang didampingi dosennya kembali menuruni gunung bromo untuk turun ke bawah.


Menurut Ridwan, ketua PRODI PIAUD UIN Jambi yang mendampingi mereka, mengharapkan mahasiswa dapat menikmati ini semua sebagai bagian keseimbangan aspek fisik dan mental mereka yang ditempa dengan berbagai perkuliahan dan tugas yang padat. Semoga setelah ini mereka kembali fresh menjalani kehidupan dunia kampus yang penuh dinamika dan bisa membuat tidak stabilnya mental mereka, biarkan healing kali ini sebagai pelengkapan ungkapan emosi yang selama ini mungkin terpendam dengan segala lika liku kehidupan dunia kampus dan semoga pula mereka semakin kompak dengan terbangunnya karakter kebersamaan diantara mereka. Terima kasih kepada romi travel yang telah mengutus tim terbaiknya, Yuda dan Ice yang melayani sepenuh hati untuk rombongan kami.


Beberapa mahasiswa juga mengungkapkan kalau mereka baru pertama kali ketempat ini. “Jangan mati muda dulu gues” sebelum ke bromo. Pesan bahagia plus candaan diantara mereka.


Hari beranjak siang, cuaca pun berubah dari yang tadinya sedingin salju menjadi hangat karena sapaan mentari yang tampak gagah memunculkan dirinya.
Rombongan pun perlahan meninggalkan bromo yang memberi sejuta kenangan yang tak terungkapkan dengan kata.
Catatan dinegeri atas awan dalam letupan kebahagian.
-Tim PIAUD-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *