Achmad Fadlan “Tantangan Literasi Pada Anak Usia Dini Di Era Digital

 

Literasi secara umum adalah kemampuan setiap individu untuk memahami bacaan tulisan untuk memecahkan suatu masalaah selain daripada itu, literasi bisa diartikan untuk mendiskripsikan bacaan atau tulisan melalui pikiran. Fenomena yang ada pada saat ini minat baca anak anak Indonesia masi sangat rendah hasil studi Most littered nation in the world oleh central Connecticut state university menempatkan posisi minat baca anak anak indonesi ada di peringkat 60 dari 61 negara maka dari itu literasi diibaratkan dua mata pisau yang bisa merugikan dan bisa juga menguntungkan.

Pada era digital saat ini literasi menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda bukan hanya membaca buku tetapi berkembang menjadi literasi digital pola asuh dan pengawasan orang tua sangat penting tantangan bagi generasi pada saat ini di era digital adalah kemampuan dalam menyerap, mengembangkan dan mengelola informasi dari dinamika atau gambaran yang kita lihat pada saat ini literasi bukan hanya membangun fisik tetapi juga membangun pikiran dan masa depan anak yang lebih literat.

Menurut Achmad Fadlan selaku dosen PIAUD UIN Jambi yang telah banyak bergabung dengan organisasi kemasyarakatan serta menjadi Nara Sumber diberbagai tempat, dilihat dari tingkatannya literasi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu literasi awal dan literasi lanjut. Istilah literasi awal merujuk pada pengertian literasi secara sempit di mana kemampuan literasi dimaknai sebagai keterampilan membaca dan menulis. Sedangkan literasi lanjut adalah dimensi literasi yang memandang bahwa literasi adalah kegiatan kompleks yang berhubungan dengan banyak aspek keterampilan lain. Keterampilan membaca dan menulis pada literasi awal terbagi menjadi dua dimensi yaitu dimensi teknis dan dimensi pemahaman. Dimensi teknis dalam hal ini adalah bagian yang memandang literasi sebagai kemampuan untuk melafalkan huruf, kata, frasa, klausa, dan kalimat secara teknis tanpa mempertimbangkan makna di dalamnya pada keterampilan membaca. Sedangkan pada keterampilan menulis, dimensi teknis menuntut individu untuk mampu menyalin dan mengubah wacana lisan menjadi tulisan (tidak ada unsur sumbangan ide yang merupakan ekspresi pribadi individu). Dimensi pemahaman pada literasi awal adalah kemampuan untuk memahami isi sebuah bacaan secara tersurat. Dalam hal ini individu dituntut untuk mengerti kandungan isi bahan bacaan yang dibacanya. Sedangkan pada keterampilan menulis, literasi awal menuntu individu untk menuangkan ide, gagasan, dan pendapat sederhana. Hal ini berbeda dengan literasi pada tingkat lanjut. Literasi tingkat lanjut melibatkan proses pemahaman lintas bidang. Dalam hal ini, pada keterampilan membaca tidak hanya makna tersurat yang harus dipahami oleh pembaca melainkan pada makna tersirat sekaligus tersorot. Oleh karena itu literasi di tingkat lanjut memerlukan pengetahuan lain di luar bacaan yang bisa diperoleh melalui menyimak, pengalaman pribadi, diskusi dengan individu lain, maupun penelitian. Setiap kegiatan tersebut akan menyumbangkan pendalaman pemahaman terhadap topik yang dibahas. Demikian pula pada keterampilan menulis, litrasi lanjut menuntut penulis untuk menuangkan ide, gagasan, dan semua hal yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan dengan melibatkan pengetahan lintas bidang dan lintas keilmuan. Bertitik tolak dari penjelasan di atas, di tingkat lanjut seringkali literasi muncul sebagai satu kesatuan kegiatan pemaduan pengetahuan, konstruksi keilmuan, dan pengalaman lintas bidang.

Dalam pesan akhirnya Achmad Fadlan mengajak semua lini untuk dapat meningkatkan literasi pada anak-anak sedini mungkin, kalau tidak sekarang kapan lagi..kalau bukan kita siapa lagi serunya dengan berapi-api.

-Dewi Suta-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *