Malioboro Disambangi PIAUD “20”

Petang menjelang malam dibalik senja yang berselimut mendung, Yogyakarta (15/01/2023) para mahasiswa PIAUD “20” bergegas keluar dari hotel di kawasan gajah mada Yogyakarta. Meski baru beberapa jam, sempat mendaratkan tubuh di empuknya kasur hotel dan mandi air hangat tak membuat para kaum milenial PIAUD “20” istirahat memejamkan mata setelah perjalanan panjang jambi, jakarta, magelang, yogya. Gempuran letih tak menghalangi niat mendatangi kawasan malioboro.

Mahasiswa berkumpul di loby dan segera memesan mobil melalui aplikasi maxim maupun grab.
Menjelang redupnya sang mentari, rombongan mahasiswa dan dosen ini tiba tepat di tengah-tengahnya jalan malioboro. Tanpa menunda, mahasiswa tancap gas menuju lokasi pasar belanja pakaian “teras malioboro” untuk kembali menumpahkan rasa ingin belanja yang tak mampu di rem. Kembali, dengan berbekal sisa-sisa uang yang ada di dompet mereka menyerbu teras malioboro dan sekitarnya, lagi-lagi mereka melaksanakan kegiatan ritual shoping nya. Seolah mata tak bisa diredupkan oleh binaran pajangan pakaian khas jogya yang selalu memanggil nama mereka untuk dibeli dan satu persatu pakaian yang ada berpindah tangan ke mahasiswa setelah ijab kabul jual beli dilakukan. Pesanan oleh-oleh pun beruntun berdatangan untuk mereka bawa ke Jambi, sehingga beberapa mahasiswa mengorek lebih dalam rekeningnya.
Puas shoping, mereka mencoba menelusuri panjangnya jalan malioboro hingga menuju museum kereta api ditwngah berjubelnya lautan manusia, bahkan terus beranjak ke kiri menuju dari persimpangan lampu merah.
Sambil menunggu mobil pesanan yang tak kunjung datang, akhirnya mereka sempat terdampar dibilangan kantor BPD Yogyakarta. Tersimpuh karena lelah, perut yang mulai keroncongan, lewatlah sang mamang bakso. Tanpa pikir panjang, mereka menghadang lajunya sang mamang bakso yang akhirnya mereka pesan sekedar mengganjal perut yang keroncongan akibat protes dari sang cacing penghuni perut. Hanya beralaskan lantai trotoar, mereka makan bakso bersama-sama dan beruntung perjalanan mereka ditemani oleh para dosennya, sehingga rasa khawatir mereka hilang sehingga bakso yang ada ludes tak tersisa dan hanya menyisakan mangkok untuk dikembalikan ke sang mamang. Mamang bakso sempat berujar, dari mana dek? Sontak mereka menjawab “dari mahasiswa PIAUD uin Jambi mang”. Oh, jauhnya..moga skripsinya cepat selesai ya de..ujar sang mamang menimpali dengan ramah sambil beranjak pergi..”aamin” jawab mahasiswa kompak.
Akhirnya kembali mereka memesan gocar untuk menuju hotel, beruntung kali ini gocar yang dipesan, tak menunggu lama hadir di tengah mereka dan segera menghantarkan mereka kembali ke hotel dengan rasa bahagia.

Catatan di tengah hiruk pikuk malioboro yang tak tidur hingga dini hari menjelang.
Salam kenangan dari malioboro dibalik temaram kota.
-Miftahul Jannah S-