Menjadi mahasiswa yang hidup dalam perantauan tentu tidaklah mudah, segala sesuatu haruslah diselesaikan sendiri apapun masalahnya. Terlebih lagi bila mahasiswa harus secara mandiri secara finansial memenuhi kebutuhannya.
Begitulah yang terjadi pada “Salmah Asriani” mahasiswa PIAUD UIN Jambi menjalani hari-hari sulitnya selama kuliah. Ia yang seorang perantauan juga mesti bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun perkuliahannya. Perjuangan yang tidak mudah bagi seorang gadis berkulit putih bersih ini.
Tangisan dalam menjalani kehidupan merupakan bumbu yang ia jalani demi sebuah masa depan yang lebih baik. Ia mencari nafkah dari hasil tangannya sendiri agar tidak memberatkan beban keluarga, tentu tidak seperti rekan-rekan lainnya yang hidup dengan segala kecukupan. Namun, ia juga menyadari masih banyak pula rekannya yang lain mesti berjuang sama seperti dirinya agar tidak menggantungkan kehidupan hanya pada keluarga.

Hingga pada detik akhir, tangisan Salmah yang telah ia jalani semasa perkuliahannya berakhir dengan indah. Bagaimana tidak, ia pada hari Senin, 5 desember 2022 berhasil melalui proses ujian skripsinya dengan mendapat nila “A” dan yudisium “Cumlaude”. Ia mempertahankan skripsinya di depan para tim sidang yang terdiri dari Ketua sidang : Drs Sunarto, M.Pd, Penguji I : Dr. Siti Mariah Ulfah, M.Pd.I, Penguji II : Achmad Fadlan, M.Pd.I serta sekretaris : Sapriya Utami, M.Pd dengan didampingi oleh pembimbing I : Ridwan, M.Psi., Psikolog dan pembimbing II : Indra Bangsawan, M.Pd.

Salmah yang merupakan mahasiswa PIAUD yang pertama kali melaksanakan Seminar Proposal di semester 7 pada akhirnya berhasil pula menuntaskan ujian skripsinya yang juga di semester 7. Bahkan, ia berhasil pula mengikuti Yudisium ke-24 yang diadakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Jambi.

Dalam pernyataannya, Salmah mengungkapka rasa syukur atas perjuangan yang telah ia jalani dan keberhasilan yang ia peroleh. Dirinya tak bisa lagi menangis di hari bahagianya ini. Bagi Salmah, air mata nya sudah mengering karena lelah tak henti-hentinya menangis. Kini secercah kebahagian yang ingin ia utarakan tak lagi kesedihan, karena kesedihan selalu hinggap dan saatnya saya untuk bahagia ujar Salmah penuh haru mengingat kepedihan yang jalani selama ini. Saya ingin meraih masa depan saya tutur Salmah.
-Miftahul Jannah-